Saya di sini, di depan pc kantor, ingin mengerjakan laporan tapi rasanya tak sanggup, entah ke mana semangat mengerjakan yang tadi pagi.
Tak seperti biasanya, jika kemarin-kemarin saat akan pulang kampung, saya semangat sekali menyelesaikan pekerjaan, tapi hari ini tidak, rasanya seperti hambar, seperti tak ingin pulang.
Tak tahu harus berekspresi bagaimana saat tiba di rumah nanti, jika sebuah topeng untuk menutupi kesedihan ada dijual, maka saya akan segera ke sana membelinya. Jika biasanya saya pulang ke kost bisa menangis sepuasnya, maka kesedihan ini, setelah sampai di rumah nanti harus saya tahan sampai tenggorokan saja. Saya harus tetap tersenyum walau menahan sakit di tenggorokan, entah bagaimana nanti melakukannya. Jika biasanya saya menangis di malam yang sunyi maka saya harus menahannya, menangis tanpa suara jika tak ingin mama tahu anaknya sedang rapuh.
Bangun pagi, beberapa hari ini rasanya seperti mimpi buruk saja.. ternyata iman saya serapuh itu..
Tak seperti biasanya, jika kemarin-kemarin saat akan pulang kampung, saya semangat sekali menyelesaikan pekerjaan, tapi hari ini tidak, rasanya seperti hambar, seperti tak ingin pulang.
Tak tahu harus berekspresi bagaimana saat tiba di rumah nanti, jika sebuah topeng untuk menutupi kesedihan ada dijual, maka saya akan segera ke sana membelinya. Jika biasanya saya pulang ke kost bisa menangis sepuasnya, maka kesedihan ini, setelah sampai di rumah nanti harus saya tahan sampai tenggorokan saja. Saya harus tetap tersenyum walau menahan sakit di tenggorokan, entah bagaimana nanti melakukannya. Jika biasanya saya menangis di malam yang sunyi maka saya harus menahannya, menangis tanpa suara jika tak ingin mama tahu anaknya sedang rapuh.
Bangun pagi, beberapa hari ini rasanya seperti mimpi buruk saja.. ternyata iman saya serapuh itu..
Komentar
Posting Komentar