Langsung ke konten utama

Postingan

Sekarang, Tak Tahu Nanti

Jika Tuhan bertanya padaku saat ini, mana yang kan kupilih antara dia dan dirimu.. maka akan kupilih dirimu meski kau tak memilihku.. itu sekarang, tak tahu nanti Jika ku ditanyai apa alasannya, maka dengan yakin kujawab karena aku mencintaimu.. itu sekarang, tak tahu nanti Jika mereka berkomentar bahwa aku sungguh bodoh, maka aku hanya akan tersenyum dan membenarkan, ya aku memang bodoh, tapi aku tak menyesalinya.. itu sekarang, tak tahu nanti Jika nasihat bijak selalu berkata untuk memilih orang yang mencintai kita saja, maka itu adalah hal tersulit untuk kulakukan.. itu sekarang, tak tahu nanti Jika Tuhan memberiku satu permintaan, maka kan kucoba meminta hatimu yang memang adalah milik-Nya.. Itu sekarang, tak tahu nanti Jika kau pernah sadar akan seonggok perasaan yang bersemayam di hati ini, maka tanyalah hatimu apa yang sebaiknya kau lakukan ... Maka di sini, sampai detik ini aku masih menunggu, tak tahu nanti..

Be Aware to Your ATM's limit date

Hari gajian adalah hari yang paling ditunggu-tunggu oleh (maybe) almost of pe en es di negeri ini, apalagi pe en es yang cadangannya di bank belum banyak sehingga sangat mengandalkan tanggal kesayangan tanggal 1 (kalo bukan tanggal merah) tiap bulannya. Kebetulan di Oktober 2017, tanggal 1 adalah hari Minggu, jadilah gajian tanggal 2. Hari Minggu di tanggal 1 gw lagi weekend-an di Polewali, pulang Gereja ke atm mo ngambil duit buat sewa mobil balik ngerantau ke Mamuju, and jeng jeng jeng, sang atm menyatakan ke gw melalui tulisan di layarnya kalo atm gw udah kadaluarsa, saat si atm keluar memang betul di situ terpampang 'valid thru 9/17'. Gw tahu kalo atm itu punya batas waktu hingga kadaluarsa, tapi bodohnya gw ga pernah ngeh buat perhatiin dengan seksama, hapalin, dan aware buat segera ganti karena waktunya udh mau habis. Mungkin kalo nih atm bisa ngomong dia bakal bilang : 'lo bisanya cuma manfaatin gw, lo gesek gw hampir tiap minggu, tapi gak pernah perhatian kalo gw ud...

Hari Minggu dan Hujan

Hari Minggu dan hujan adalah surga dunia bagi sebagian besar orang, libur dan cuaca yang mendukung buat males-malesan, naik ke kasur, narik selimut dan kembali tidur. Oh tapi tidak di hari Minggu kali ini, kami disibukkan dengan pompa air yg lagi ngambek, alhasil kenyamanan di hari minggu harus terusik oleh kegiatan angkat-angkat air pake ember dari penampungan air di depan rumah, tentunya buat memenuhi hasrat yang tak bisa ditunda-tunda lagi bagi sebagian besar orang di pagi hari. Ketika saat-saat seperti ini datang, maka pikiran membanding-bandingkan akan datang dengan sendirinya, "ah di rumah di Polman mah enak, airnya melimpah, gak ada jam-jam tertentu buat ngalir" , lalu apa yang kau dapat dengan mengeluh dan membanding-bandingkan? rupa-rupanya gak ada sih. Membanding-bandingkan sesuatu sudah seperti rutinitas di dalam hidup gw, karena dia terlalu sering muncul tanpa diundang. Waktu kuliah pengen kembali jadi anak SMA; waktu tingkat 4 kuliah pengen kembali jadi anak tin...

Pulang

Setelah kepindahan saya ke Mamuju, saya jadi paling mencintai hari Jumat dan membenci hari Minggu. Jauh dari keluarga itu rasanya ternyata begini, dulu waktu kuliah saya juga jauh dari keluarga, tapi jauh dari keluarga dalam jarak hanya Polman-Mamuju ternyata lebih menyiksa ketimbang jarak Polman-Jakarta. Mengapa? karena jarak yang dekat dan memungkinkan banget buat pulang itulah yang selalu membuat pikiran melayang ke rumah, kalo gak pulang pas weekend itu rasanya gak enak, karena memang bisa pulang. Beda dengan kalau tinggal di Jakarta, yang jaraknya jauh, angan-angan buat pulang itu perlahan-lahan pudar dengan ketidakmungkinan yang ada, jadi pikiran bisa lebih fokus memikirkan hal-hal lain atau mencari pelarian buat sekedar menahan rindu. Hal paling berat adalah hari Minggu, ketika jam sudah mulai menunjukkan pukul 12 siang, hati ini sudah mulai gelisah, rasanya kayak ada utang di orang yang belum dibayar, atau kayak ada batu di telapak kaki, mau packing enggan tapi mesti pulang,...

Anak PKL

"Adek anak PKL juga ya?", sapa seorang bapak waktu sy jalan masuk dari gerbang "ooh, bukan Pak, saya pegawai" sambil senyam senyum gak jelas ke si Bapak. Haha.. suatu kebahagiaan tersendiri masih dikira anak seusia anak SMK.. wekawekaweka.. Kantor baru, semangat baru...

Cimory

Mendengar nama Cimory, yang pertama terlintas di pikiran sebagian besar orang mungkin (bisa ya bisa nggak) adalah minuman di bawah ini : Sumber : cimory.com Ya, minuman di atas banyak bertebaran di Alfamart, Indomaret, Alfamidi dan sejenisnya. Pertama kali lihat minuman di atas saya mikirnya itu produk Jepang, emang dasar saya orangya cuek sama tulisan-tulisan di kemasan yang saya beli saya pun berpikiran begitu selama beberapa lama sampai ada teman saya yang bilang kalo itu produk asli Indonesia, ya ialah dari logo Cimory yang warnanya merah putih aja harusnya saya mikir, eh tapi bendera Jepang juga warnanya merah putih sih :3 Cimory ini ternyata merupakan akronim dari Cisarua Mountain Dairy, hahaha namanya ternyata Bogor banget, cuman dibikin bahasa Inggris biar keren dan menjual kali ya. Ya kali kalo di Indonesia-in namanya jadi Persuguci a.k.a Perusahaan Susu Gunung Cisarua, wkwkwk. Ternyata, produk yang ada di foto di atas itu cuma seiprit aja produk mereka, kalo kita ngunj...

Kamar Lantai 3

Aku rindu kamar kost ku di lantai 3 Kost Koko di Gang Haji Misnen, Jalan Otista II. Lebih kurang empat tahun kamar ini menjadi saksi bisu kehidupan anak rantau ini di ibukota sana. Keluar dari pintu kamar ini dan melihat keluar dari jendela kaca bangunan kost, simbol ibukota 'Monas' langsung menyapa, akan lebih terlihat di malam hari, dengan lampu di pucuk Monasnya yang berganti-ganti. Kamar yang panas, karena berada di lantai paling atas. Dulu, akulah penghuni terlama di lantai 3, entah sekarang sudah adakah yang menyamai atau melampaui rekorku, selama sekitar 4 tahun aku menghuni lantai itu, selalu ada keinginan untuk pindah ke bawah (lantai 2 atau 1) bahkan pindah ke kost lain tapi entah mengapa tidak terealisasi sampai aku meninggalkan ibukota. Tak ada penghuni yang bertahan cukup lama di lantai 3, mereka pergi satu per satu, dulu semua kamar terisi penuh, lalu satu per satu mereka pindah, datang lagi penghuni baru tapi seluruh kamar tak pernah lagi terisi penuh semu...