![]() | |
| Telaga Menjer, sumber : Google |
"Di sini ada yang pacaran nggak?" dengan santai kami kompak menjawab, "enggak paaak.. "
begitulah sekilas percakapan kami dengan bapak pemilik warung, beliau memberi info bahwa ada mitos yang beredar seputar Telaga Menjer, yang pacaran bisa putus dan sebaliknya yang gak pacaran bisa jadian. Kami tak menanggapi serius mitos itu, toh yang ada dalam benak kami saat itu adalah liburan, hepi-hepi, saya senang kamu senang.. hehe.. Waktu yang kami miliki di Dieng pun masih lumayan banyak, sekitar 3 jam, masih ada waktu untuk mengunjungi satu tempat lagi sebelum meninggalkan negeri yang konon katanya merupakan negeri para dewa dewi ini, oh ya disebut begitu karena konon asal mula nama Dieng berasal dari kata 'di' yang berarti tempat atau gunung dan 'hyang' yang berarti dewa, yang berarti tempat para dewa berada.
Setelah santap siang yang penuh canda tawa, kami kemudian bergegas menuju Telaga Menjer, dengan penuh percaya diri kami berpikir sanggup untuk sampai ke sana meskipun bapak pemilik warung mengatakan kalau jalan ke sana penuh tikungan dan tanjakan, jaraknya katanya sekitar 9 km, "bisalah, itu sama kayak jarak dari rumahmu ke rumahku Mel" begitu kata teman saya Julmi yang saya ingat kala itu, ya kalau dipikir-pikir 9 km memang tidak terlalu jauh, di kampung halaman kami di Polewali Mandar, dia sudah sering bolak-balik naik motor dengan jarak tempuh itu. Tapi ada satu rintangan yang terlewatkan untuk terpikirkan...
Dieng, merupakan sebuah dataran tinggi, perlu ditekankan kata 'tinggi-nya', ya sebuah tempat yang tinggi, untuk menuju ke sebuah tempat yang tinggi tentunya kita harus melewati tanjakan dan sebaliknya menempuh penurunan untuk kembali ke Wonosobo, dan itulah yang kami jumpai, tujuh orang anak muda polos dari Jakarta, yang selama empat tahun kuliah wara-wirinya mungkin hanya dengan transjakarta, angkot, metro mini, kopaja, ataupun jika mengendarai motor hanya di jalan mulus, datar dan lurus, sekarang harus menghadapi jalan Dieng yang memang mulus tapi curam dan berkelok tajam. Jalanan itupun hanya mampu menampung 2 buah mobil berpapasan, serta kanan kiri yang sebagian besar jurang meskipun ada juga jejeran pemukiman penduduk yang lumayan ramai.
![]() |
| Jalanan Dieng, sumber : Google |
Mulai Takut
Saat tiba di tanjakan yang lumayan curam sekaligus tikungan, Ajiz yang membawa motor jenis kopling mengalami masalah. Kata Fadli sih, Ajiz baru belajar juga bawa motor jenis itu, jadi katanya motor kopling itu saat kamu gak lincah mindah2in koplingnya, maka mesin motor bisa mati sendiri di tengah jalan, dan itulah yang dialami oleh Ajiz. Ngerinya lagi motor itu mati di tengah tanjakan dan di depannya tikungan, Puji Tuhan banget gak ada mobil dari arah berlawanan saat itu, kalau ada... saya tak tahu apa yang akan terjadi, karena kendaraan dari arah berlawanan akan menurun dan muncul dari balik tikungan, bayangin aja sendiri deh. Julmi turun dari motor dan berjalan sampai ke atas tanjakan, setelah motor normal kembali ia kembali naik. Di situasi seperti ini, saya belum merasakan perasaan tidak enak, tak pernah terlintas di benak saya untuk berhenti dan kembali saja, tak usah ke Telaga Menjer dengan kondisi jalan seperti itu, saya tak menyadari kalau teman-teman yang lain sebenarnya merasakan sebaliknya, terutama Fadli, yang saya tahu kemudian kalau dia sudah gemetaran katanya saat bawa motor di sepanjang perjalanan itu. Setelah melewati tanjakan dan tikungan tersebut, sekarang posisinya, Alfi di depan, diikutin saya dan Fadli, lalu entah Ajiz dan Julmi atau Kak Wahyu dan Fadilah mana yang lebih dulu, saya tak memperhatikan. Saat itu Alfi berhenti di pinggir jalan, saya pikir dia berhenti karena menunggu kami yang sempat terhenti saat mesin motor Ajiz mati, jadi saya bilang aja ke Fadli untuk terus lanjut. Sekarang posisinya saya dan Fadli ada di urutan paling depan (bukan lagi balapan motoGP :P ), saat menyadari tidak ada teman-teman yang mengikuti dari belakang, kami mulai bertanya2, kemana ya mereka? motor sengaja dilambatkan untuk menunggu mereka, tapi yang ditunggu tak muncul juga, kami pun akhirnya memutuskan untuk singgah di tepi jalan menunggu mereka, beberapa saat menunggu, muncullah sosok kak Wahyu dari balik tikungan, daaan.. dia muncul sendiri, tidak ada teman-teman yang lain. Singkatnya kak Wahyu memberi informasi bahwa teman-teman yang lain tidak berani lagi melanjutkan perjalanan, jadilah kami putar balik dan berkumpul di suatu tempat di pinggir jalan untuk berdiskusi. Parahnya lagi, para cowok-cowok udah gak berani lagi boncengin kami pulang ke basecamp , karena jalan yang akan ditempuh bukan penurunan lagi, tapi tanjakan.
| mereka yang gak berani lagi boncengin kami pulang :') :') |
| Nunggu bus apa nunggu jodoh mbak? |
Tapi kami bersyukur tidak melanjutkan perjalanan ke Telaga Menjer, karena ternyata saat jam mulai menunjukkan pukul 3 sore, kabut tebal mulai menyelimuti wilayah Dieng, seandainya kami meneruskan mengunjungi Menjer, mungkin kami tak bisa pulang karena kabut, ditambah jalan yang menanjak.. huaaa..
Sekian cerita perjalanan mengunjungi Telaga Menjer yang gagal, mungkin di lain waktu jika ada kesempatan, umur panjang dan uang (hahahha) bisa mengunjungi Telaga Menjer :)))


Komentar
Posting Komentar